Wednesday, February 16, 2011

Sejarah Beton Bertulang

Beton adalah suatu campuran yang terdiri dari pasir, krikil, batu pecah, atau agregat-agregat lain yang di campur menjadi satu dengan suatu pasta yagn terbuat dari semen dan air membentuk suatu massa mirip-batuan. Terkadang, satau atau lebih bahan aditif ditambahkan untuk menghasilkan beton dengan karakteristik tertentu, seperti kemudahan pengerjaan (workability), durabilitas, dan waktu pengerasan.
Seperti substansi-substansi mirip batuan lainnya, beton memiliki kuat tekan yang
tinggi dan kuat tarik yang sangat rendah. Beton bertulang adalah suatu kombinasi antara beton dan baja di mana tulangan yang merupakan baja berfungsi menyediakan kuat tarik yang tidak dimiliki pada beton. Tulangan baja juga dapat dapat menahan gaya tekan sehingga digunakan pada kolom dan pada berbagai kondisi lain. Kelebihan beton bertulang

Beton bertulang dapat dikatakan sebagai bahan konstruksi yang sangat penting. Beton
bertulang digunakan dalam berbagai bentuk untuk hampir semua struktur, seperti bangunan, jembatan, pengerasan jalan, bendungan, terowongan, dan sebagainya. Sukses beton bertulang sebagai bahan konstruksi yang universal dapat di pahami jika dilihat dari segala kelebihan yang dimilki oleh beton itu sendiri. Kelebihan tersebut antara lain :
 Beton memiliki kuat tekan yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan
kebanyakan bahan lain
 Beton bertulang mempunyai ketahanan yang tinggi terhadap api dan air
 Struktur beton bertulang sangat kokoh
 Beton bertulagn tidak memerlukan biaya pemeliharan yang relatif tinggi.
 Beton memiliki usia yang relatif sangat panjang.
 Beton merupakan satu-satunya bahanyagn ekonomis unutk pondasi tapk, dinding
basement, tiang tumpuan jembatan, dan bangunan-bangunan semacam itu
 Beton dapat di cetak dengan bentuk yang beragam
 Beton terbuat dari bahan-bahan lokal yang murah
 Keahlian buruh yang dibutuhkan untuk membangun konstruksi beton bertulang
lebih rendah dibandingkan dengan bahan lain seperti baja struktur.

Beton Bertulang pada awalnya tidak begitu diketahui. Sebagian besar hasil karya
awal beton pada waktu itu dilakukan oleh dua orang Perancis, Joseph Lambot dan
Joseph Monier. Sekitar tahun 1850, Lambot membuat sebuah perahu beton yang
ditulangi dengan suatu jaringan yang terdiri dari kawat baja atau tulangan yang tersusun parallel. Meskipun demikian, penghargaan terbesar biasanya diberikan kepada Monier, karena ia lah orang yang menemukan beton bertulang. Tahun 1867 ia meneriama hak
paten atas keberhasilannya membuat kolam atau tong dan penampang air dari beton yang ditulangi dengan suatu anyaman yang terbuat dari kawat besi. Tujuan yang ingin
dicapainnya dengan melakukan pekerjaan ini adalah membuat konstruksi yang ringan
tanpa mengurangi kekuatan beton.

Dari tahun 1867 sampai 1881 Monier mendapatkan hak paten untuk bermacam-
macam konstruksi beton-bertulang, antara lain penopang melintang rel kereta api yang digunakan untuk mengikat dan menyalurkan tegangan ke bantalan rel, pelat lantai, bendungan busur, jembatan untuk pejalan kaki, bangunan, dan sebagainya, baik di Perancis maupun di Jerman. Orang Perancis lainnya, Franćois Coignet, membuat struktur beton bertulang sederhana dan mengembangkan metode dasar mengenai pembuatan desain beton-bertulang. Tahun 1861 ia menerbitkan sebuah buku di mana di dalam buku tersebut ia menampilkan contoh-contoh aplikasi yang cukup banyak. Ia adalah orang pertama yang menyadari bahwa penambahan terlalu banyak air ke dalam campuran beton sangat mengurangi kekuatan beton. Orang Eropa lain yang termasuk peneliti pertama beton bertulang adalah William Fairbairn dan William Wilkinson dari Inggris, G.A. Wayss dari Jerman, dan Francois Hennebique yang juga berasal dari Perancis.

William E. Ward membangun bangunan beton bertulang yang pertama di Amerika Serikat di Port chester, N.Y., pada tahun 1875. Pada tahun 1883 ia merepresentasikan tulisannya di hadapan America Society of Mechanical Engineer di mana dalam tulisan tersebut ia mengklaim bahwa ia mendapatkan ide tentang beton bertulang ketika melihat para buruh Inggris mencoba memindahkan semen yang telah mengeras dari cetakan-cetakan besi mereka pada tahun 1867.

Thaddeus Hyatt, orang Amerika, mungkin adalah orang pertama yang menganalisis dengan benar tegangan-tegangan pada suatu beton bertulang, dan pada tahun 1877 ia menerbitkan sebuah buku setebal 28 halaman tentang pokok bahasan ini, berjudul An Account of Some Experiments with Portland Cement Concrete, Combined with Iron a.” a Building Material. Dalam buku ini ia memuji pengunaan beton bertulang dan mengatakan “balok baja harus menerima nasibnya.” Hyatt memberikan penekanan yang besar kepada daya tahan beton yang tinggi terhadap api.

E. L. Ransome dari San Fransisco diduga telah menggunakan beton bertulang pada awal tahun 1870-an dan merupakan penemu tulangan ulir, di mana atas penemuannya ini ia menerima hak paten pada tahun 1884. Tulangan-tulangan ini, yang mempunyai penampang melintang berbentuk bujursangkar, dipuntir dalam keadaan dingin (cold-twisted) dengan satu putaran penuh dan panjangnya tidak lebih dari 12 kali diameter tulangan. (Tujuan dari pemuntiran ini adalah agar ikatan antara beton dan
tulangan semakin kuat.) Pada tahun 1890 di San Fransisco, Ransome membangun
Museum Leland Stanford Jr. Bangunan yang terbuat dari beton bertulang tersebut
memiliki panjang 95.1 meter dan tinggi dua lantai di mana yang digunakan sebagai
tulangan tulang tarik adalah tali baja nekas yang semula digunakan pada kereta gantung. Bangunan ini mengalami kerusakan kevil pada tahun 1906 akibat gaya gempa bumi dan kebarakan yang diakibatkan oleh gempa tersebut. Tingkat kerusakan yang kecil pada bangunan ini dan pada struktur-struktur beton lain yang juga mengalami kebakaran besasr tahun 1906 tersebut menyebabkan bentuk konstruksi ini dapat di terima secara luas di pantai barat. Sejak tahun 1900-1910, perkembangan dan penggunaan beton-bertulang di Amerika Serikat menigkat sangat pesat.