Wednesday, March 2, 2011

Kelecakan Adukan Beton (Nilai Slump)

Kelecakan Adukan Beton

Kelecakan (sifat plastis, consistency, yaitu sifat kekentalan beton segar, antara cair dan padat), pada beton segar penting dipelajari karena merupakan ukuran kemudahan beton segar (adukan beton) untuk diaduk dalam bejana pengaduk, diangkut dari tempat pengadukan ke lokasi penuangan, dituang dari bejana pengaduk ke cetakan beton, dan dipadatkan setelah beton segar berada dalam cetakan.
Secara umum, dapat dikatakan bahwa semakin encer beton segar maka semakin mudah beton segar tersebut dikerjakan. Dalam praktek sering ukuran keenceran beton segar dan ukuran kemudahan pengerjaan “dicampur-adukkan”. Hal ini wajar saja, karena biasanya semakin encer beton segar maka semakin mudah dikerjakan, kecuali pada beton khusus.

Kelecakan betton segar dipengaruhi oleh beberapa faktor, faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:

1) Jumlah air yang dipakai dalam campuran adukan beton. Makin banyak air dipakai maka makin encer beton segar.

2) Jumlah pasta (semen dan air) dalam campuran adukan. Makin banyak pasta maka makin encer beton segar. Penambahan jumlah pasta tidak mengubah nilai faktor air semen (fas) dari campuarn adukan beton segar.

3) Gradasi agregat (campuran agregat halus dan agregat kasar). Bila gradasi campuran agregat halus dan agregat kasar mengikuti gradasi agregat campuran yang telah disarankanoleh standar (Perencanaan Campuran dan Pengendalian Mutu Beton, 1994) maka adukan beton akan mempunyai kelecakan yang baik sehingga relatif mudah untuk dikerjakan.

4) Bentuk butiran agregat. Pemakaian butir-butir batuan yang bulat (kerikil) tampak lebih encer sehingga lebih mudah dikerjakan daripada butir agregat yang bersudut (batu pecah/split).

5) Besar butir agregat maksimum agregat. Pemakaian butir maksimum agregat yang lebih besar tampak “lebih encer” sehingga lebih mudah dikerjakan daripada butir maksimum yang lebih kecil.

Sebagai pedoman awal, besarnya nilai kelecakan beton segar (nilai slump) untuk berbagai macam pekerjaan pembetonan, disarankan menggunakan Tabel 14.1. seperti di bawah ini. Nilai slump tersebut boleh diubah jika dalam pelaksanaan ternyata hasilnya kurang memuaskan.


Pengujian Kelecakan Adukan Beton (Nilai Slump)

Untuk mengetahui nilai kelecakan adukan beton (nilai slump beton) dilakukan dengan menggunakan alat uji slump. Langkah-langkah pengujiannya adalah sebagai berikut:

1.Ambil adukan beton segar sebanyak 2 x 20 liter (kira-kira 4 ember) dari dua titik pengambilan yang berbeda. Pengambilan dilakukan dengan cara mengaduk adukan betonnya terlebih dahulu.

2.Basahi alat slump test dan plat landasannya dengan lap basah.

3.Letakkan alat slump test di atas plat landasannya.

4.Masukkan adukan beton segar ke dalam kerucut slump dalam 3 lapisan yang tebalnya kira-kira sama, setiap lapisan dipadatkan dengan cara menusuk-nusuk dengan tongkat pemadat sebanyak 25 kali setiap lapisannya.

5.Ratakan permukaan adukan beton pada kerucut slump dan biarkan selama 30 detik.

6.Bersihkan sisa adukan yang tercecer di cetakan dan di plat landasannya.

7.Angkat kerucut slump secara perlahan-lahan dengan arah tegak lurus dan usahakan jangan sampai goyang.

8.Ukur penurunan adukan beton (slump) yang terjadi di empat titik yang berbeda, nilai slump diambil rata-rata dari penurunan yang terjadi.

Yang perlu diperhatikan dalam melakukan uji slump antara lain adalah sebagai berikut :

1.Adukan beton yang telah diambil di ember, sebelum dimasukkan ke dalam kerucut slump harus diaduk terlebih dahulu.

2.Penentuan nilai slump untuk satu adukan beton segar minimal dilakukan dua kali dan hasilnya dirata-rata sebagai nilai slumpnya.

3.Setiap uji slump, nilai penurunannya harus diukur di empat titik penurunan yang berbeda, dan nilai slumpnya merupakan nilai rata-rata dari keempat penurunan yang terjadi.

4.Nilai slump dinyatakan dalam satuan cm.

5.Jika terjadi penurunan beton segar seperti bentuk gambar di bawah ini (shear slump), maka pemeriksaan harus diulang kembali.


(Sumber Referensi : Buku Teknologi Beton, karya Ir. Kardiyono Tjokrodimuljo, M.E. Tahun 2007.)