Monday, May 9, 2011

Dimensi Ilmu, Teknologi, dan Seni

Ilmu, teknologi, dan seni merupakan produk yang menjadi milik manusia. Artinya ilmu, teknologi, dan seni didapat melalui pola berfikir analogi ilmiah dengan menggunakan metode keilmuan yang runtut membawa ke arah titik temu pada suatu konklusi yang bersifat nisbi, namun terhindar dari dekadensi silang pendapat fundamental di kalangan ilmuwan dalam waktu tertentu, sehingga terbuka untuk dimungkinkan adanya pembuktian dan pengujian akan kebenarannya.

Aplikasi dan implikasi ilmu terapan ke dalam kancah teknologi dan seni berupa prasarana maupun sarana kegiatan sosial, membawa dampak menjunjung nilai budaya normative bagi kehidupan manusia dengan kemanusiaannya. Ilmu, teknologi, dan seni sebagai paradigma etika yang mempunyai nilai-nilai bagi kemaslahatan umat berkubang pada kepentingan ilmu, teknologi, dan seni itu sendiri. Ilmu, teknologi, dan seni yang tergolong sains, merupakan natural sciences yang berorientasi terhadap pengetahuan tentang ke alaman, adalah cara pandang mengenai pemanfaatan alam dengan segala isinya yang bersifat materialis. Menurut Mundzirin Yusuf (1998), bahwa ilmu pengetahuan ke alaman dapat dibagi menjadi:
1) Ilmu kehidupan, yaitu ilmu pengetahuan mengenai makhluk hidup di alam.
2) Ilmu kebendaan (physical sciences), yang membahas benda mati di alam.
3) Teknologi dan seni, yaitu ilmu tentang penerapan ilmu pengetahuan untuk memenuhi suatu tujuan yang sesuai dengan kehendaknya.

Ilmu pengetahuan itu sendiri, dalam hal ini dapat dirumuskan sebagai suatu proses pemikiran dan analisis yang rasional, sistimatik, logik dan konsisten. Hasilnya dari ilmu pengetahuan dapat dibuktikan dengan percobaan yang transparan dan objektif. Ilmu pengetahuan itu sendiri didapat melalui sebuah proses penalaran. Proses penalaran memiliki fungsi yang sangat penting, yaitu adalah sebagai berikut:
1) Sebagai landasan filosofis tentang ilmu, teknologi, dan seni itu sendiri.
2) Peramalan terhadap kejadian di masa yang akan datang.
3) Sumber motivasi untuk menguak tabir ketidaktahuan manusia terhapa alam.
4) Sebagai sumber kebenaran ilmiah.
5) Sebagai landasan etika pengembangan ilmu, teknologi, dan seni bagi kemaslahatan umat manusia.