Tuesday, May 10, 2011

Keindahan (Estetika) dalam Arsitektur

Estetika adalah salah satu cabang filsafat. Secara sederhana, estetika adalah ilmu yang membahas keindahan, bagaimana ia bisa terbentuk, dan bagaimana seseorang bisa merasakannya. Pembahasan lebih lanjut mengenai estetika adalah sebuah filosofi yang mempelajari nilai-nilai sensoris, yang kadang dianggap sebagai penilaian terhadap sentimen dan rasa. Estetika merupakan cabang yang sangat dekat dengan filosofi seni.

Keindahan atau estetika berasal yunani “Aestetika” yang berarti hal-hal yang dapat diserap oleh panca indera pertama kali digunakan oleh Alexander Gottlieb Baumgarten pada tahun 1735. Estetika pada zaman dahulu dikenal sebagai ilmu filsafat yang lambat laun berkembang menjadi hal-hal yang ilmiah yang juga membicarakan masalah seni dan keindahan serta pengalaman estetika.

Estetika tersebut mempunyai suatu jawatan yang besar, sehingga di yunani timbul teori-teori estetika. Estetika dikaitkan dengan tata-atur. Seorang ahli yang menyusun teori tentang estetika yaitu De Witi Hiparker, meneliti teori-teori estetika seperti:

1.Teori Objektif

Keindahan adalah sifat atau kualitas yang telah melekat pada suatu objek yang bersangkutan.

2.Teori Subjektif

Keindahan itu hanyalah tanggapan perasaan pada diri seseorang yang mengamati suatu benda, keindahan bergantung pada penyerpan dan persepsi pengamat terhadap benda yang diamati.
Estetika filsafat : masih ancient (filsafat keindahan)
Estetika alamiah : modern atau revolusi industri
Di yunani bentuk/ aturan yang diperhitungkan sehingga muncul Golden Section, yaitu perbandingan 3:5, merupakan bentuk yang indah untuk dilihat, keindahan ditangkap berdasarkan kesetimbangan lingkungan yang sarat dengan simbolik-simbolik.

Estetika terdiri dari 6 (enam) azas, yaitu:
1. Azas Kesatuan utuh/ Keanekaan. Bahwa setiap karya yang indah mengandung hanya unsur-unsur yang perlu dan saling mempunyai hubungan timbal-balik.
2. Azas Tema. Bahwa terdapat suatu atau beberapa peran utama baik itu berupa bentuk, warna, pola, irama, atau makna sebagai titik pusat nilai dan pemahaman/ pengamatan orang terhadap karya itu.
3. Azas Variasi Menurut Tema. Bahwa tema harus disempurnakan dan diungkapkan dalam berbagai variasi agar tidak membosankan/ monoton.
4. Azas Keseimbangan. Bahwa keseimbangan itu tidak dapat dicapai dari kesamaan unsure-unsur yang berlawanan, saling memerlukan untuk menciptakan suatu kebulatan.
5. Azas Perkembangan/ Evolution. Bahwa makna yang menyeluruh dicapai dengan kesatuan dari proses bagian awal yang menentukan bagian-bagian proses selanjutnya.
6. Azas Tata Jenjang. Bahwa perlu ada satu unsure yang memimpin, yang diatas dari unsure-unsur yang lain , dan sama-sama mendukung tema.

Konsep Estetika dalam Arsitektur
1. Skala. Keindahan skala yang dimaksud yaitu, bagaimana sebuah bangunan arsitek yang disajikan bentuknya yang sesuai dengan ukuran yang profesional. karena keindahan bangunan bukan saja dilihat dari besarnya bangunan tersebut atau bentuknya yang menjulang tinggi tapi semua itu tidak boleh lepas dari ketentuan skala atau ukuaran yang memberikan kesan keindahan.
2. Warna. Pemilihan warna yang akan digunakan dalam proses finishing sangat memerlukan keterampilan yang khusus. dikarenakan pemilihan warna sangat menentukan daya tarik suatu bangunan, jika perencana terlalu berani bermain dengan proporsi warna, ini akam berakibat fatal dalam penciptaan daya tarik suatu bangunan.
3. Proporsi. Yang dimaksud dengan proporsi adalah ukuran suatu material bangunan. suatu bangunan dikatan memiliki proporsi yang tepat adalah bangunan yang memiliki dimensi-dimensi yang sebagun. contohnya atap pada bangunan, atap yang digunakan akan sesuai dengan dimensi dinding yang akan menopang atap tersebut. dikatakan bangunan tersebut tidak memenuhi proporsinya, atap yang digunakan lebih besar dari penampang bawah yang menopangnya.
4. Ritme/Irama. Adalah sesuatu yang dapat memberikan daya tarik pada bangunan atau dengan kata lain keunikan dari bangunan.