Sunday, May 1, 2011

Logika

Logika adalah ilmu pengetahuan tentang asas, aturan, hukum-hukum, susunan, atau bentuk pikiran manusia yang dapat mengantar pikiran tersebut pada suatu kebenaran. Dengan pengertian ini, logika tidak membahas tentang proses mengingat-ingat, namun membahas atau mempelajari masalah penalaran. Artinya penalaran disini adalah salah satu cara berfikir, namun tidak semua berfikir itu pasti dapat disebut sebagai penalaran.

Penarikan kesimpulan baru dianggap valid bila proses penarikannya dilakukan melalui cara yang valid pula, sehingga cara penarikan kesimpulan semacam ini disebut dengan logika. Untuk penarikan kesimpulan hanya akan ditelaah melalui dua macam penarikan kesimpulan, yaitu melalui logika deduktif dan logika induktif. Logika deduktif adalah suatu cara penarikan kesimpulan yang dibangun berdasarkan premis yang bersifat umum (premis mayor), kemudian menentukan premis yang bersifat khusus (premis minor), baru dapat diambil suatu kesimpulan yang sesuai dengan premis yang bersifat umum sebelumnya. Sebaliknya, logika induktif adalah suatu cara penarikan kesimpulan yang dibangun dari premis-premis yang bersifat khusus kemudian dikaitkan dengan premis yang bersifat umum, baru dilakukan penarikan kesimpulan.

a. Logika Deduktif

Pengembangan pengetahuan yang dibangun berdasarkan logika deduktif pada prinsipnya adalah suatu proses berfikir yang didasarkan pada premis yang bersifat umum, kemudian mengidentifikasi premis-premis yang bersifat khusus yang terkait dengan premis umum tersebut , kemudian baru dilakukan penarikan kesimpulan.
Alat untuk mencapai pengetahuan dengan jalan berfikir deduktif disebut silogisme. Silogisme adalah suatu argumentasi yang terdiri dari tiga buah proposisi (Propositio dalam bahasa Latin berarti suatu statemen yang menolak atau membenarkan suatu perkara). Dua proposisi pertama disebut premis mayor dan premis minor, sedangkan proposisi yang ketiga disebut kesimpulan, kunklusi, konsekuensi. Berikut ini adalah beberapa contoh silogisme yang dapat dijadikan sebagai dasar dalam berfikir deduktif.

1) Silogisme Kategorik

Contoh :
Semua manusia terkena nasib mati. (premis mayor)
Presiden adalah seorang manusia. (premis minor)
Jadi, presiden terkena nasib mati juga. (kesimpulan)

2) Silogisme Kondisional, Hipotetik, atau Bersarat

Contoh :
Bila bis remnya blong yang sedang dalam berada di jalan menurun, penumpangnya dalam bahaya. (premis mayor)
Bis tersebut ternyata remnya memang blong di jalan menurun tersebut. (premis minor)
Jadi, penumpangnya dalam bahaya. (kesimpulan)

3) Silogisme Alternatif atau Pilih Salah Satu

Contoh :
Saya harus kawin atau meneruskan sekolah. (premis mayor)
Saya tidak aka meneruskan sekolah. (premis minor)
Jadi, saya harus kawin. (kesimpulan)

4) Silogisme Disjungtif atau Melerai

Contoh :
Tidak mungkin seseorang dalam keadaan miskin dan makmur akan hidup bermewah-mewah. (premis mayor)
Seseorang dalam keadaan miskin. (premis minor)
Jadi, adalah tidak mungkin orang miskin akan hidup bermewah-mewah. (kesimpulan)
Cara berfikir deduktif yang telah dipelopori oleh seorang ahli ilmu pengetahuan terkenal dari Yunani Kuno yaitu Aristoteles, ternyata telah menjadi alat yang sangat berguna berabad-abad lamanya, dan sampai sekarangpun masih besar sekali manfaatnya.

b. Logika Induktif

Logika berfikir induktif bertujuan untuk membentuk pengetahuan yang umum yang kemudian akan dijadikan dasar deduksi itu, dijadikan premis mayor dari silogisme-silogisme. Berfikir induktif berangkat dari fakta-fakta atau peristiwa-peristiwa yang khusus dan kongkrit, kemudian dari fakta-fakta atau peristiwa-peristiwa yang khusus dan kongkrit tersebut ditarik generalisasi-generalisasi yang bersifat umum. Dalam pengambilan generalisasi umum semacam ini sudah tentu hal-hal atau peristiwa-peristiwa khusus yang dijadikan dasar generalisasi itu masih termasuk dalam wilayah generalisasi yang dianggap benar. Di bawah ini diberikan contoh tiga jenis induksi pokok, yaitu: (1) induksi lengkap; (2) induksi sistem Bacon; (3) induksi tidak lengkap.

1) Induksi Lengkap

Dalam induksi lengkap apa yang dilakukan oleh penyidik adalah semata-mata menghitung ciri-ciri subyek, individu, atau peristiwa dalam suatu kelas, kemudian menyimpulkan hasil perhitungannya dalam suatu simpulan yang bersifat umum meliputi semua subyek, individu, atau peristiwa dalam kelas itu. Sebagai contoh :
A terkena penyakit busung lapar
B terkena penyakit busung lapar
C terkena penyakit busung lapar
D terkena penyakit busung lapar
…………………………………
R terkena penyakit busung lapar
S terkena penyakit busung lapar
Jadi, semua warga A sampai S (yang mendiami desa “XYZ”) dapat terkena penyakit busung lapar.

2) Induksi Sistem Bacon

Bacon adalah seorang tokoh empirisme, sama sekali menolak deduksi yang ditemukan oleh orang lain. Sebaliknya, ia menganjurkan agar orang mengadakan pengamatan sendiri untuk memperoleh simpulan-simpulan secara umum. Untuk mencapai suatu gejala, sistem Bacon meminta tiga macam tabulasi (pencatatan):
a. Tabulasi ciri-ciri positif, yaitu kondisi-kondisi atau peristiwa-peristiwa dimana suatu gejala pasti muncul jika kondisi-kondisi atau peristiwa-peristiwa itu ada.
b. Tabulasi ciri-ciri negatif, yaitu kondisi-kondisi atau peristiwa-peristiwa dimana suatu gejala tidak muncul meskipun kondisi-kondisi itu ada.
c. Tabulasi variasi kondisi, yaitu pencatat ada tidaknya perubahan ciri-ciri gejala pada kondisi-kondisi yang berubah-ubah (diubah-ubah).
Dengan melakukan berbagai tabulasi tersebut, maka barulah orang dapat menetapkan ciri-ciri, sifat-sifat, atau unsur-unsur yang pasti ada, yang tidak dapat dipisahkan dari peristiwa atau gejala tersebut. Sebelum semua ciri-ciri, sifat-sifat, atau unsur-unsur itu dikumpulkan, menurut Bacon tidak semestinya peneliti coba menarik kesimpulan-kesimpulan tertentu atau merumuskan pemecahan suatu masalah.

3) Induksi Tidak Lengkap.

Berbeda dengan induksi sempurna, induksi tidak lengkap atau induksi tidak sempurna tidak meminta pengamatan terhadap seluruh obyek dalam suatu kelas, melainkan cukup terhadap sebagian saja dari obyek yang menjadi bagian dari kelas itu. Sebagian dari keseluruhan yang ada disebut sampel atau contoh.

Penarikan kesimpulan yang bersifat umum yang dibangun melalui cara berfikir induktif, ada dua keuntungan yang dapat diperoleh, yaitu: 1) bersifat ekonomis, dan 2) dimungkinkannya proses penalaran selanjutnya baik secara induktif maupun deduktif. Pertama, keuntungan yang bersifat ekonomis dari cara berfikir induktif adalah bahwa kehidupan yang beraneka ragam dengan berbagai corak dan segi dapat direduksikan menjadi beberapa pernyataan. Kedua, keuntungan yang bersifat dimungkinkannya proses penalaran lebih lanjut baik yang bersifat deduktif dan induktif. Penalaran dengan logika induktif akan diperoleh berbagai pernyataan yang bersifat umum, sehingga dapat disimpulkan pernyataan-pernyataan yang lebih bersifat umum lagi. Penalaran semacam ini dimungkinkan disusunnya suatu pengetahuan secara sistematis yang mengarah pada pernyataan yang makin lama makin mendasar.