Sunday, May 1, 2011

Penalaran

Penalaran menghasilkan pengetahuan yang dikaitkan dengan kegiatan berfikir dan tidak dikaitkan dengan perasaan, dalam hal ini seorang ahli fisika yaitu Pascal menyatakan bahwa ternyata hati juga mempunyai logikanya sendiri. Penalaran adalah kegiatan berfikir yang memiliki karakteristik tertentu dalam menemukan suatu kebenaran. Dengan singkat dapat dinyatakan bahwa penalaran dapat didefinisikan sebagai suatu proses berfikir dalam menarik suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan yang benar.

Penalaran sebagai suatu proses berfikir didasarkan dua hal utama, yaitu logis dan analitis. Logis sebagai salah satu ciri penalaran mengandung pengertian bahwa setiap bentuk penalaran mempunyai logikanya masing-masing. Dengan kata lain, dapat disimpulkan bahwa penalaran adalah suatu proses berfikir logis, dimana berfikir logis adalah suatu kegiatan berfikir menurut pola tertentu atau logika tertentu. Perlu diketahui bahwa berfikir logis itu memiliki konotasi yang bersifat jamak (plural) dan bukan tunggal (singular).

Analisis adalah ciri kedua dari penalaran, yaitu kegiatan berfikir yang mendasarkan diri pada suatu analisis. Manusia dalam melakukan kegiatan berfikir tidak selalu didasarkan pada penalaran, namun juga kegiatan berfikir yang didasarkan pada perasaan dan intuisi. Berfikir yang didasarkan pada perasaan dan intuisi disebut dengan kegiatan berfikir non-analitis. Manusia untuk mendapatkan pengetahuan selain dapat dilakukan dengan cara berfikir analitis dan non-analitis, pengetahuan juga dapat diperoleh melalui wahyu. Meskipun demikian, bila ditinjau dari usaha manusia dalam memperoleh pengetahuan yang benar, maka dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu pengetahuan yang diperoleh dengan berusaha secara aktif (penalaran, instuitif, dan perasaan), dan pengetahuan yang diperoleh secara pasif berupa wahyu.
Manusia dalam melakukan proses penalaran, maka pengetahuan yang dipergunakan dapat diperoleh melalui dua sumber utama, yaitu berdasarkan pada rasio dan fakta. Pengetahuan yang bersumber pada rasio, kebenarannya hanya didasarkan kebenaran akal fikiran manusia, maka manusia meyakini bahwa pengetahuan yang benar yang didasarkan pada akal semata, orang yang menganut paham ini sering disebut sebagai paham rasionalisme. Sedangkan pengetahuan yang bersumber pada fakta, dimana kebenaran suatu pengetahuan hanya didasarkan adanya data di lapangan, maka manusia yang meyakini bahwa pengetahuan yang benar bila ada faktanya, orang yang menganut paham ini disebut dengan paham empirisme.