Tuesday, May 10, 2011

Sejarah Estetika (Bagian 2)

Penggunaan geometri dan angka dalam arsitektur terus berlangsung hingga awal abad ke-20 saat berkembangnya Arsitektur Modern. Pada masa Arsitektur Modern, proporsi golden section diadaptasi oleh Le Corbusier dalam teori Modulornya. Perbedaannya dengan penggunaan geometri dan angka pada masa sebelumnya adalah bahwa dalam Arsitektur Modern, pengaruh geometri dan angka berakibat pada tujuan penataan ruang yang semata-mata untuk alasan efisiensi dan ekonomi. Perez-Gomez (1990) menyatakan bahwa paradigma efisiensi dan ekonomi dalam Arsitektur Modern merupakan akibat dari pendekatan rasional absolut sehingga arsitektur direduksi hanya sebagai teori yang rasional dengan menolak keterhubungannya dengan filosofi dan kosmologi.

Selain mendasarkan diri pada perhitungan rasional, Arsitektur Modern merupakan suatu bentuk arsitektur yang mengidekan suatu universalitas dan objektivitas. Hal ini merupakan konsekuensi dari konsep yang hanya didasarkan pada objek semata. Mendasarkan pada objek dan meniadakan kemungkinan subjektif dengan meniadakan faktor pengamat berarti mencari sesuatu yang objektif dan universal. Kita dapat melihat hubungan erat antara Arsitektur Modern dengan arsitektur masa Renaissance yang tumbuh dalam masa euforia terhadap sains dan pemikiran rasional, yakni bersifat objektif dan universal.

Perkembangan filsafat fenomenologi pada masa awal abad keduapuluh yang mengkritisi pendekatan matematis dari modernisme kemudian membawa suatu pendekatan baru dalam estetika. Dalam fenomenologi, perhatian lebih diarahkan kepada keberadaan subjek yang mempersepsi objek daripada kepada objek itu sendiri. Dengan kata lain hal ini dapat dikatakan sebagai: membuka kemungkinan adanya subjektivitas. Hal ini menimbulkan kesadaran akan adanya konteks ruang dan waktu; bahwa pengamat dari tempat yang berbeda akan memiliki standar penilaian yang berbeda, dan begitu pula dengan pengamat dari konteks waktu yang berbeda. Pemikiran inilah yang kemudian akan berkembang menjadi postmodernisme.

Terbukanya kemungkinan untuk bersifat subjektif memberi jalan bagi keberagaman dalam estetika, dan memberikan banyak pengaruh pada arsitektur. Pengaruh-pengaruh tersebut antara lain adalah:
Wajah arsitektur yang semakin beragam dan semakin kompleks, tidak seperti wajah Arsitektur Modern yang selalu polos. Ide akan kompleksitas dalam arsitektur pertama kali dicetuskan oleh Robert Venturi dari Amerika dalam bukunya Complexity and Contradiction in Architecture (1962) yang kemudian mengawali postmodernisme dalam arsitektur. Dalam buku tersebut terlihat adanya pergeseran estetika yang sangat besar. Venturi mendukung penggunaan kompleksitas dan kontradiksi dalam arsitektur dan mencanangkan slogan less is bore yang merupakan penyerangannya terhadap slogan less is more dari Arsitektur Modern.

Dengan terbukanya subjektivitas, maka timbul kecenderungan untuk memberikan identitas pada arsitektur, baik berupa identitas pemilik ataupun identitas si arsitek. Akibat dari kecenderungan ini, terjadilah fenomena berlomba-lomba untuk membuat monumen-monumen yang dipergunakan untuk menunjukkan jatidiri. Pada titik ini terjadi tumpang-tindih antara estetika dengan simbolisme, karena estetika dipergunakan sebagai sarana untuk menunjukkan identitas. Ide ini bukanlah ide baru, karena arsitektur pada masa sebelum masa Arsitektur Modern juga telah banyak menggunakannya, akan tetapi yang terjadi pada postmodernisme adalah pluralisme yang berlebihan karena setiap individu berusaha untuk memiliki jatidiri sendiri (Piliang, 1998).

Adanya kesadaran akan kontekstualitas membuka pikiran akan tidak adanya universalitas dan objektivitas. Hal ini menuju pada pengakuan akan adanya (pengetahuan) konsep estetika arsitektur lain di luar arsitektur barat. Akibatnya terjadi perkembangan ilmu estetika arsitektur yang merambah ke arsitektur selain Barat yang sebelumnya dianggap sebagai oriental, termasuk juga arsitektur di Indonesia.