Wednesday, July 13, 2011

Tayangan Televisi yang Mendidik

Televisi saat ini adalah sarana elektronik yang paling digemari dan dicari orang. Untuk mendapatkan televisi tidak lagi sesusah zaman dahulu dimana perangkat komunikasi ini adalah barang yang langka dan hanya kalangan tertentu yang sanggup memilikinya. Saat ini televisi telah menjangkau lebih dari 90 persen penduduk di negara berkembang. Televisi yang dulu mungkin hanya menjadi konsumsi kalangan dan umur tertentu saat ini bisa dinikmati dan sangat mudah dijangkau oleh semua kalangan tanpa batasan usia.

Kita akui, tayangan televisi akhir-akhir ini cenderung kurang selektif. Tayangan pasda jam jam utama (prime time) sering menyajikan sinetron yang mengangkat cerita kurang bermutu seperti roman picisan, intrik-intrik rumah tangga kelas atas, kisah horor, komidi yang sedikit "syur" dan sejenisnya. Sedangkan porsi tayangan sinetron yang secara spesial mengangkat dunia anak-anak sering kali berisi adegan jorok, latah dan mengandung unsur kekerasan.

Bisa dikatakan, televisi nasional belum mengakomodasi terhadap aneka kebutuhan dan keinginan anak-anak secara sungguh-sungguh. Anak-anak seakan dilupakan. Porsi paket acara yang dikonsumsikan untuk mereka seperti acara permainan, pentas lagu-lagu anak-anak, kuis, cerdas cermat dan acara-acara lain yang bersifat mendidik sudah langka, untuk tidak dikatakan sudah menghilang.

Oleh karena itu, sudah saatnya pengelola televisi mengkaji ulang berbagai sajian yang ingin ditayangkan. Harapannya, mereka bisa menyajikan beraneka acara yang sarat dengan pesan-pesan positifedukatif. Sebaliknya mengurangi tayangan sinetron yang kurang memupuk pendidikan budi pekerti.

Minimnya komitmen pendidikan pertelevisian nasional sudah sepatutnya menyadarkan para pengelola televisi. Dari sini akan lahir langkah konkret dalam memperbaiki kualitas tayangan televisi sebagai bagian dari upaya pendidikan moral bangsa.

Upaya memperbaiki kualitas tayangan televisi dirasakan semakin mendesak dilakukan. Alasannya, kualitas moral bangsa saat ini sedang terpuruk yang ditandai oleh tingginya pelaku KKN, kriminalitas dan tindakan pelanggaran moral lainnya. Di pihak lain, peran lembaga keluarga dan lembaga pendidikan dalam mendidik moralitas anak- anak dan remaja semakin merosot. Dalam kondisi demikian, akan sangat kontra-produktif jika menu tayangan televisi yang disaksikan anak-anak dan remaja bermuatan pornografi.

Selektif Dalam Memilih Acara yang Ditonton

Lebih baik menonton acara-acara yang berkualitas. Tidak semua tayangan di televisi itu buruk tetapi ada beberapa acara yang baik untuk ditonton. Dalam hal ini kita lebih baik melihat acara apa yang direkomendasikan. Contohnya, bila kita ingin menonton film, sangat baik bila kita membaca resensinya dahulu sebelum kita tonton. Kita sebagai keluarga Kristen harus bisa mengatasi bagaimana caranya agar penyakit ini jangan sampai menulari generasi gereja. Dalam hal ini kita harus bisa menjadi guru paling tidak bagi diri sendiri dan anggota keluarga dan jemaat. Prinsip dari nasihat Paulus kepada jemaat di Tesalonika untuk menguji segala sesuatu dan memegang yang baik mungkin bisa kita aplikasikan di dalam kehidupan sehari-hari ketika kita membuat pilihan apa yang harus dan apa yang tidak harus kita lakukan. Tuhan telah memberi kita akal untuk bisa memilih mana yang baik dan mana yang tidak baik. Jangan izinkan anak- anak Saudara mempunyai televisi di kamar. Televisi membuat anak-anak menutup diri dari keluarga dan keluarga akan sulit untuk memonitor program- program yang ditonton. Jika anak- anak Anda mempunyai televisi di kamar, pertimbangkan untuk memindahkan televisi tersebut atau bersiaplah untuk menghadapi konfllik yang besar dengan mereka. Kita harus menentukan acara televisi yang akan ditonton oleh anak kita setiap minggunya. Pastikan televisi tidak dihidupkan ketika acara ditetapkan untuk ditonton belum mulai. Jangan biarkan televisi hidup hanya untuk melihat iklan atau untuk mendengar suaranya saja. Orang tua juga perlu, mendampingi anak-anak saat menonton sebuah tayangan dan memberi mereka penerangan akan siaran yang ditonton. Kita perlu melihat bagaimana anak-anak menyikapi tontonan tersebut dan memberikan waktu untuk mendiskusikannya bersama. Orang tua juga perlu menetapkan jam untuk menonton.

Dampak Negatif

Hadirnya beberapa stasiun televisi di Indonesia patut dirayakan sebagai sebuah prestasi. Apalagi jika mengingat kontribusi yang telah mereka berikan dalam ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Booming TV swasta diakui telah mencerahkan dan mencerdaskan masyarakat melalui sajian informasi yang disampaikan secara tajam, objektif dan akurat.

Pendek kata, publik telah berhutang jasa kepada media televisi yang telah membantu anggota masyarakat dalam memahami berbagai persoalan aktual di bidang ekonomi, politik, sosial, budaya dan lain-lain. Media televisi juga telah memperluas wawasan publik dengan sajian acara dialog, debat, talk show, diskusi dan berbagai acara informatif-edukatif lain.

Kehadiran stasiun baru dalam pertelevisian nasional mau tidak mau semakin mempertajam tingkat persaingan dalam bisnis di bidang ini. Sebagai konsekuensinya, para awak televisi harus memilih strategi tepat dalam menggaet segmen pemirsa. Upaya merebut hati penonton ini dilakukan sebagai bagian dari upaya meningkatkan rating sekaligus menaikkan iklan yang masuk.

Dalam iklim kompetisi tersebut, ternyata beberapa televisi memilih jalan pintas antara lain dengan mengeksploitasi dunia anakanak dan remaja secara berlebihan. Eksploitasi ini diindikasikan dalam empat hal. Pertama, judul-judul sinetron remaja yang disajikan sering kali bertemakan vulgarisme, menantang dan mengandung unsur pornografi. Kedua, pemain sinetron yang dipilih rata-rata berasal dari kalangan remaja belia atau bahkan sebagian masih berusia anak-anak.

Tayangan TV terbukti cukup efektif dalam membentuk dan mempengaruhi prilaku anak-anak lantaran media ini sekarang telah berfungsi sebagai sumber rujukan dan wahana peniruan. Tayangan TV akan berdampak positif bagi pembentukan moralitas anak-anak jika cara pemanfaatan dilakukan secara benar. Televisi sebagai produk teknologi sejatinya bersifat netral. Bisa berdampak positif atau negatif tergantung bagaimana penggunaannya.

(Diambil dan disadur dari beberapa sumber yang relevan)