Wednesday, September 7, 2011

Pengukuran Pengikatan Ke Belakang

A. LATAR BELAKANG

Pengikatan ke belakang adalah suatu metode pengukuran data dari tiga buah titik di lapangan tempat berdiri target (rambu ukur/jalon) untuk memperoleh suatu titik lain di lapangan tempat berdiri alat yang akan diketahui koordinatnya dari titik tersebut. Garis antara ketiga titik yang diketahui koordinatnya dinamakan garis absis. Sudut dalam yang dibentuk antar absis terhadap target di titik A, B, dan C dinamakan sudut alpha (α) dan beta (β). Sudut alpha dan beta diperoleh dari lapangan.

Pada metode ini, pengukuran yang dilakukan hanya pengukuran sudut. Bentuk yang digunakan metode ini adalah bentuk segitiga. Cara Pengikatan ke belakang dilakukan pada saat kondisi lapangan tidak memungkinkan menggunakan pengukuran pengikatan ke muka, dikarenakan alat theodolite tidak mudah untuk berpindah-pindah posisi, dan kondisi lapangan yang terdapat rintangan. Terdapat dua macam cara yang dapat dipakai dalam menentukan titik koordinat dengan cara pengikatan ke belakang, yaitu cara pengikatan ke belakang metode Collins dan cara pengikatan ke belakang metode Cassini.

Cara pengikatan ke belakang metode Collins merupakan cara perhitungan dengan menggunakan logaritma, karena pada saat munculnya teori ini belum terdapat mesin hitung atau kalkulator tetapi pada saat ini pada proses perhitungannya dapat pula dihitung dengan bantuan kalkulator. Metode ini di temukan oleh Mr.Collins tahun 1671.

Cara pengikatan ke belakang metode Cassini muncul pada tahun 1979, pada saat itu teknologi mesin hitung sudah mulai berkembang, sehingga dalam proses perhitungannya

B. MAKSUD DAN TUJUAN

Adapun maksud dan tujuan dari dilaksanakannya kegiatan praktek pengukuran pengikatan ke belakang ini antara lain adalah sebagai berikut :
1) Untuk memberikan pemahaman terhadap mahasiswa tentang pengukuran pengikatan ke belakang itu sendiri.
2) Agar mahasiswa mampu dan terampil dalam menggunakan alat Theodolit sesuai dengan prosedur.
3) Agar mahasiswa mengetahui cara menentukan letak/posisi suatu titik di permukaan bumi yang selanjutnya titik tersebut digunakan sebagai titik pengikat pada pengukuran yang lain. Misal pemetaan situasi.

C. DASAR TEORI

Pengikatan ke belakang adalah suatu metode pengukuran data dari tiga buah titik di lapangan tempat berdiri target (rambu ukur/jalon) untuk memperoleh suatu titik lain di lapangan tempat berdiri alat yang akan diketahui koordinatnya dari titik tersebut. Terdapat dua macam cara yang dapat dipakai dalam menentukan titik koordinat dengan cara pengikatan ke belakang, yaitu cara pengikatan ke belakang metode Collins dan cara pengikatan ke belakang metode Cassini.

Dalam laporan ini, perhitungan yang digunakan adalah perhitungan dengan menggunakan metode Cassini. Metode ini muncul pada tahun 1979. Metode ini dikembangkan pada saat alat hitung sudah mulai ramai digunakan dalam berbagai keperluan, sehingga pada perhitungannya dibantu dengan mesin hitung. Oleh karena itu cara pengikatan ke belakang yang dibuat oleh Cassini dikenal dengan nama metode mesin hitung.


Adapun langkah-langkah perhitungannya adalah sebagai berikut :
1) Menghitung Sudut Alpha (α) dan Beta (β)
Data yang diperoleh dari lapangan adalah bacaan sudut P ke A, sudut P ke B, dan sudut P ke C pada posisi teropong biasa (B) dan luar biasa (LB)
a) Sudut α dan β Pada Posisi Teropong Biasa (B)
Sudut α1 = (Sudut P ke A)/(Sudut P ke B)
Sudut β1 = (Sudut P ke B)/(Sudut P ke C)
a) Sudut α dan β Pada Posisi Teropong Luar Biasa (LB) )
Sudut α2 = (Sudut P ke A)/(Sudut P ke B)
Sudut β1 = (Sudut P ke B)/(Sudut P ke C)
a) Sudut α dan β Rata-rata)
Sudut α Rata-rata = (Sudut α1+Sudut α2)/2
Sudut β Rata-rata = (Sudut β1+Sudut β2)/2

2) Menghitung Koordinat Titik R
a) Menghitung Xr
Xr = Xa+(Yb-Ya) . cotg α
b) Menghitung Yr
Yr = Ya- (Xb-Xa) .cotg α

2) Menghitung Koordinat Titik S
a) Menghitung Xs
Xs = Xc+(Yc-Yb) . cotg β
b) Menghitung Ys
Ys = Yc-(Xc-Xb) .cotg β

3) Menghitung n
n= tan αrs = (Xs-Xr) : (Ys-Yr)

4) Menghitung Koordinat Titik P dari Titik R
a) Menghitung Xpr
Xpr = {nXb + (1/n Xr) + (Yb-Yr)} / (1+1/n)
b) Menghitung Ypr
Ypr = {(1/n Yb) + nYr + (Xb-Xr)} / (1+1/n)

5) Menghitung Koordinat Titik P dari Titik S
a) Menghitung Xps
Xps = {nXb + (1/n Xs) + (Yb-Ys)} / (1+1/n)
b) Menghitung Yps
Yps = {(1/n Yb) + nYs + (Xb-Xs)} / (1+1/n)

6) Menghitung Koordinat Titik P Definitif
Xp = (Xpr+Xps) / 2
Yp = (Ypr+Yps) / 2

D. PELAKSANAAN PENGUKURAN

1) Peralatan
a) Pesawat Theodolit dan Statif
b) 3 Target (Jalon)
c) Rol Meter
d) Unting-Unting untuk alat tanpa sentra optis
e) Kertas dan Alat Hitung
f) Data Board dan Alat Tulis
g) Patok dan Paku Payung
h) Payung

2) Persyaratan Operasi Theodolit
Syarat–syarat utama yang harus dipenuhi alat theodolite sehingga siap dipergunakan untuk pengukuran yang benar adalah sebagai berikut :
a) Sumbu I harus tegak lurus dengan sumbu II (dengan menyetel nivo tabung dan nivo kotaknya).
b) Garis bidik harus tegak lurus dengan sumbu II.
c) Garis jurusan nivo skala tegak, harus sejajar dengan indeks skala tegak.
d) Garis jurusan nivo skala mendatar, harus tegak lurus dengan sumbu II. (syarat 2, 3, dan 4 sudah dipenuhi oleh pabrik pembuatnya).

3) Mengatur Sumbu Tegak
Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mengatur sumbu tegak adalah sebagai berikut:
a) Usahakan agar nivo lingkaran mendatar sejajar dengan arah 2 skrup kaki statif.
b) Tengahkan posisi gelembung nivo dengan cara memutar kedua skrup kaki statif secara bersamaan dengan arah yang berlawanan.
c) Setelah keadaan gelembung nivo berada di tengah maka putar theodolit 90º. tengahkan posisi gelembung nivo dengan hanya memutar skrup kaki statif yang ketiga
d) Kemudian kembalikan ke kedudukan semula (sejajar skrup kaki statif 1 dan 2).
e) Tengahkan kembali posisi nivo apabila gelembung nivo belum berada ditengah.
f) Kemudian putar theodolit 180º, sehingga nivo berputar mengelilingi sumbu tegak dalam kedudukan nivo yang sejajar dengan skrup kaki kiap 1 dan 2.
g) Bila garis arah nivo tegak lurus dengan sumbu tegak, maka gelembung nivo akan tetap berada ditengah.

4) Penyetelan Alat Theodolit
a) Mendirikan statif sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan.
b) Pasang pesawat diatas kepala statif dengan mengikatkan landasan peawat dan sekrup pengunci di kepala statif.
c) Stel nivo kotak dengan cara:
1. Putarlah sekrup A,B secara bersama-sama hingga gelembung nivo bergeser kearah garis sekrup C. (lihat gambar 3a)
2. Putarlah sekrup c ke kiri atau ke kanan hingga gelembung nivo bergeser ketengah (lihat gambar 3b).
3. Setel nivo tabung dengan sekrup penyetel nivo tabung.



d) Bila penyetelan nivo tabung menggunakan tiga sekrup penyetel (A,B,C), maka caranya adalah:
1. Putar teropong dan sejajarkan dengan dua sekrup A,B (lihat gambar 4a).
2. Putarlah sekrup A, B masuk atau keluar secara bersama-sama, hingga gelembung nivo bergeser ke tengah (lihat gambar 4a).
3. Putarlah teropong 90º ke arah garis sekrup C (lihat gambar 4b)
4. Putar sekrup C ke kiri atau ke kanan hingga gelembung nivo bergeser ketengah.



e) Periksalah kembali kedudukan gelembung nivo kotak dan nivo tabung dengan cara memutar teropong ke segala arah. Bila ternyata posisi gelembung nivo bergeser, maka ulangi beberapa kali lagi dengan cara yang sama seperti langkah sebelumnya. penyetelan akan dianggap benar apabila gelembung nivo kotak dan nivo tabung dapat di tengah-tengah, meskipun teropong diputar ke segala arah.

5) Langkah Pengukuran
a) Dirikan pesawat theodolit di titik P, atur sehingga siap pakai.
b) Tempatkan target di titik A, B, dan C.
c) Pada posisi teropong biasa (B) arahkan teropong pesawat ke titik A (sebagai target kiri), baca dan catat skala lingkaran horizontalnya.
d) Putar teropong pesawat searah putaran jarum jam, arahkan ke titik B (sebagai target kanan), baca dan catat skala lingkaran horizontalnya.
e) Putar teropong pesawat searah putaran jarum jam, arahkan ke titik C (sebagai target kanan), baca dan catat skala lingkaran horizontalnya.
f) Putar teropong pada posisi luar biasa (LB).
g) Arahkan teropong pesawat ke titik C (sebagai target kanan), baca dan catat skala lingkaran horizontalnya.
h) Putar teropong pesawat searah putaran jarum jam, arahkan ke titik B (sebagai target kiri), baca dan catat skala lingkaran horizontalnya.
i) Putar teropong pesawat searah putaran jarum jam, arahkan ke titik C (sebagai target kiri), baca dan catat skala lingkaran horizontalnya.
j) Data yang diambil/diukur di lapangan adalah data ukuran sudut alpha (α) dan beta (β).

E. KESELAMATAN KERJA

a) Menggunakan pakaian kerja (wearpack) dan helm.
b) Pergunakan alat sesuai dengan kegunaan dan fungsinya.
c) Menggunakan sepatu untuk melindungi kaki.
d) Melindungi PPD dari sinar matahari langsung dengan menggunakan payung.
e) Serius dan tidak bersenda gurau ketika praktek serta melaksanakan praktek sesuai dengan instruksi dosen dan asisten.

F. HASIL PENGUKURAN

Silahkan klik -->>disini<<-- untuk mendownload file excel perhitungan pengukuran pengikatan ke belakang.

---------------------------------------------------------------------------------
“Jangan lupa, berikan komentar ya jika ada saran atau masukan dan jika artikel ini bisa memberikan manfaat untuk Anda”...... :)