Wednesday, January 23, 2013

Metode T.A.I. (Team Assisted Individualization)

Metode T.A.I. (Team Assisted Individualization) merupakan salah satu jenis metode pembelajaran kooperatif yang dapat diartikan kelompok yang dibantu secara individual. Metode ini dibuat dan dikembangkan oleh Slavin, Slavin membuat dan mengembangkan model ini dengan beberapa alasan. Pertama, metode ini mengkombinasikan keunggulan kooperatif dan program pengajaran individual. Kedua, metode ini memberikan tekanan pada efek sosial dari belajar kooperatif. Ketiga, metode ini disusun untuk memecahkan masalah dalam program pengajaran, misalnya dalam hal kesulitan belajar siswa secara individual.
Penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe T.A.I. (Team Assisted Individualization) di dalam kelas adalah siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil (4 sampai 6 siswa tiap kelompok) yang heterogen dan selanjutnya diikuti dengan pemberian bantuan secara individu bagi siswa yang memerlukannya. Sebelum dibentuk kelompok, siswa diajarkan bagaimana bekerja sama dalam suatu kelompok. Siswa diajari menjadi pendengar yang baik, dapat memberikan penjelasan kepada teman sekelompok, berdiskusi, mendorong teman lain untuk bekerja sama, menghargai pendapat teman lain, dan sebagainya. Masing-masing anggota dalam kelompok memiliki tugas yang setara. Karena pada pembelajaran kooperatif keberhasilan kelompok sangat diperhatikan, maka siswa yang pandai ikut bertanggung jawab membantu temannya yang lemah dalam kelompoknya. Dengan demikian, siswa yang pandai dapat mengembangkan kemampuan dan keterampilannya, sedangkan siswa yang lemah akan terbantu dalam memahami permasalahan yang diselesaikan dalam kelompok tersebut (Suyitno, 2002:9).

 Metode pembelajaran T.A.I. (Team Assisted Individualization) mempunyai 8 (delapan) komponen (Suyitno, 2002:9). Kedelapan komponen tersebut adalah sebagai berikut:
1) Teams, yaitu pembentukan kelompok heterogen yang terdiri atas 4 sampai 6 siswa.  
2) Placement test, yakni pemberian pretest kepada siswa atau melihat rata-rata nilai harian siswa agar guru mengetahui kelemahan siswa pada bidang tertentu.  
3) Student creative, melaksanakan tugas dalam suatu kelompok dengan menciptakan situasi di mana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya.  
4) Team study, yaitu tahapan tindakan belajar yang harus dilaksanakan oleh kelompok dan guru memberikan bantuan secara individual kepada siswa yang membutuhkannya.  
5) Team scores and team recognition, yaitu pemberian skor terhadap hasil kerja kelompok dan memberikan kriteria penghargaan terhadap kelompok yang dipandang kurang berhasil dalam menyelesaikan tugas.  
6) Teaching group, yakni pemberian materi secara singkat dari guru menjelang pemberian tugas kelompok.  
7) Facts tests, yaitu pelaksanaan tes-tes kecil berdasarkan fakta yang diperoleh siswa.  
8) Whole class units, yaitu pemberian materi oleh guru kembali di akhir waktu pembelajaran dengan strategi pemecahan masalah.

Seperti halnya metode-metode yang lain, metode pembelajaran T.A.I. juga mempunyai beberapa keunggulan dan kelemahan. Keunggulan dan kelemahan metode pembelajaran T.A.I. adalah sebagai berikut:  
a) Keunggulan Metode Pembelajaran T.A.I.
1) Siswa yang lemah dapat terbantu dalam menyelesaikan masalahnya.
2) Siswa yang pandai dapat mengembangkan kemampuan dan ketrampilannya.
3) Adanya tanggung jawab dalam kelompok dalam menyelesaikan permasalahannya.
4) Siswa diajarkan bagaimana bekerjasama dalam suatu kelompok.
b) Kelemahan Metode Pembelajaran T.A.I.
1) Tidak ada persaingan antar kelompok.
2) Siswa yang lemah dimungkinkan menggantungkan pada siswa yang pandai.

Dengan mengadopsi metode pembelajaran T.A.I. untuk mengajarkan suatu mata pelajaran, maka seorang guru pengampu mata pelajaran dapat menempuh tahapan pembelajaran sebagai berikut:
1) Guru menentukan suatu pokok bahasan yang akan disajikan kepada para siswanya dengan mengadopsi metode pembelajaran T.A.I. (Team Assisted Individualization).
2) Guru menjelaskan kepada seluruh siswa tentang akan diterapkannya metode pembelajaran T.A.I. sebagai suatu variasi metode pembelajaran. Guru menjelaskan kepada siswa tentang pola kerja sama antar siswa dalam suatu kelompok.
3) Guru menyiapkan materi bahan ajar yang harus dikerjakan oleh kelompok. Bila terpaksa, guru dapat memanfaatkan LKS yang dimiliki para siswa.
4) Guru memberikan pre-test kepada siswa tentang materi yang akan diajarkan (mengadopsi komponen placement test). Pre-test bisa digantikan dengan nilai rata-rata ulangan harian siswa.
5) Guru menjelaskan materi baru secara singkat (mengadopsi komponen teaching group).
6) Guru membentuk kelompok-kelompok kecil dengan anggota 4 - 6 siswa pada setiap kelompoknya. Kelompok dibuat heterogen tingkat kepandaiannya dengan mempertimbangkan keharmonisan kerja kelompok (mengadopsi komponen teams).
7) Guru menugasi kelompok dengan bahan yang sudah disiapkan. Dalam hal ini, jika guru belum siap, guru dapat memanfaatkan LKS siswa. Dengan buku paket dan LKS, melalui kerja kelompok, siswa mengisi isian LKS (mengadopsi komponen student creative).
8) Ketua kelompok, melaporkan keberhasilan kelompoknya atau melapor kepada guru tentang hambatan yang dialami anggota kelompoknya. Jika diperlukan, guru dapat memberikan bantuan secara individual (mengadopsi komponen team study).
9) Ketua kelompok harus dapat menetapkan bahwa setiap anggota telah memahami materi bahan ajar yang diberikan guru, dan siap untuk diberi ulangan oleh guru (mengadopsi komponen team scores and team recognition). Setelah diberi ulangan, guru harus mengumumkan hasilnya dan menetapkan kelompok terbaik sampai kelompok yang kurang berhasil.
10) Pada saat guru memberikan tes, tindakan ini mengadopsi komponen facts tests.
11) Menjelang akhir waktu, guru memberikan latihan pendalaman secara klasikal dengan menekankan strategi pemecahan masalah (mengadopsi komponen whole class units).
12) Guru dapat memberikan tes formatif, sesuai dengan kompetensi yang ditentukan.